Yee, tidak terasa kehamilan-ku sudah jalan 6 bulan. Eitts, jangan tanya kok bisa hamil mba? Itu rahasia dapur. Oiya, kembali ke taufik. Kehamilanku kali ini berjalan normal. Meski ada sedikit gejolak dari calon adik didalam perut, namun kata om Dokter itu biasa dan secara keseluruhan sehat. Terakhir seminggu yang lalu, kami bertiga mengunjungi om Dokter, rencananya sih mau cek kehamilan dan melihat posisi ‘adik’ yang lagi tidur diperut.
Sesampainya ditempat praktik, walah, ramai sekali ibu-ibu hamil pada ngantri.
“Lagi musim hamil ya, Mi..” Kata misuaku.
“Enak aja, emang Duren kaleee ada musimnya…” Jawabku sambil mencubit lengan misua. (Kebiasaan dari pacaran, tukang nyubit, tapi pake mesra loh!)
Seperti biasa kami ngantri ngambil nomor urutan. Biuh, lumayan juga, hampir 20 menitan kita baru dapat nomor antrian. Astaghfirullah, masih harus nunggu 50 orang lagi buat masuk ke ruang praktik. Misua dan Dimas sih anteng aja, sibuk makan snack bawaan dari rumah.
“Mi, enak ya jadi om Dokter Kandungan, tiap hari liat “barang” cewek, apa gak malek[1] tu Dokter ya?” Ujar misua.
“Ye, gak segitu amat kali Pi, ‘kan udah profesi, mungkin doi malek lihat punya orang, tapi liat “punya” istri ya gak boleh malek…Emang Papi udah malek “liat” punya Mami?”
“Ya enggak lah,mi. Ih gitu aja ngambek..” Balas misua sambil mencubit.
Setelah hampir satu jam-an, akhirnya nomor antrian kami dipanggil. Segera kami beranjak ke ruang periksa. Dr.B adalah seorang Dokter muda, mungkin berusia 35 tahunan. Berperawakan bersih, ganteng dan terlihat mapan sekali (ya eyalah…Dokteeer gitu loh!). Dokter B langsung menanyakan keluhan kehamilanku dengan ramah. Bahkan terkesan lemah gemulai. Setelah beberapa kali tanya jawab, aku disuruh berbaring untuk pemeriksaan USG (Ultra Sono Grafi). Tidak sampai lima menit, pemeriksaan USG pun selesai.
“Gimana Dok?” Tanya misua pada Dokter B.
“Sehat pak, semua pada posisi yang seharusnya dan tidak ada masalah…” Jelas om Dokter.
“Syukurlah, oiya Dok, diusia kehamilan berapa bulan bisa diketahui pasti jenis kelamin calon bayi kami?” Tanya misua kembali.
“Kalau mau pastinya, usia 7 bulanan. Untuk saat ini, takut salah prediksi. Jadi sabar aja ya,Pak..” ujar Dokter sembari tanganya dengan terampil menuliskan catatan resep obat.
“Nah, ibu…ini bukan obat, hanya vitamin dan suplemen…diminum sesuai aturannya ya, bu…” Dokter B menyerahkan catatan resepnya kepadaku.
“Baik Dok, terimakasih ya Dok…” Kami segera beranjak keluar dari ruangan periksa.
Kehamilan calon anak ke-2 ini memang sudah dinanti. Karena jarak usia dengan kakaknya sudah terpaut 4 tahun lebih. Memang kata orangtua sudah saatnya Dimas punya adik. Emang ya, anak itu membawa rejekinya masing-masing. Kehamilan ini selain jadi titipan terbaik dari sang Khalik, juga jadi berkah. Ada saja rejekinya. Misua naik pangkat yang dipercepat, tunjangan istri rapelannya dibayar, ada saja. Syukurlah, semoga si jabang bayi kelak jadi anak yang sholeh.
Bandar Lampung, 10 Mei 2011
[1] Malek = Bosan
Regard
resep masakan Indonesia
Ulasan:182
Sumber Gambar: 10

